h1

Analisis senyawa aktif

November 10, 2010

ANALISIS SENYAWA AKTIF

h1

November 3, 2010
h1

DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS (RESUME)

April 19, 2010

DAFTAR ISTILAH

Ekosistem : yaitu suatu sistem ekologi  yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup  dengan lingkungannya.

Ekologi : ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya.

Habitat : tempat Hewan tinggal dan berkembang biak.

Niche / Relung : merupakan tempat makhluk hidup berfungsi di habitatnya, bagaimana cara hidup, atau peran ekologi makhluk hidup tersebut. Tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain.

Adaptasi : cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup.

Evolusi : perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.

Suksesi Primer :  terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru.

Senyawa fosfat Organik : fosfor yang terdapat pada hewan dan tumbuhan

Senyawa fosfat anorganik : fosfor yang terdapat pada air dan tanah.

Fotosintesis : suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya.

Atmosfer : lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.

Respirasi : suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. 

Heterotrof : organisme yang membutuhkan senyawa organik dimana karbon diekstrak untuk pertumbuhannya. Heterotrof dikenal sebagai “konsumer” dalam rantai makanan.

Pasang Surut : naik atau turunnya posisi permukaan perairan atau samudera yang disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari.

Komponen biotik : merupakan komponen dalam alam semesta yang hidup, misalnya manusia, hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, dll.

Rantai Makanan : pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan.

Terumbu karang : sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae.

Hutan mangrove : kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh disepanjang pantai tropis dan sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob.

Lamun/seagrass : kelompok tumbuhan berbiji tertutup dan berkeping tunggal yang mampu hidup secara permanen di bawah permukaan laut.

Vegetasi :  sebutan umum bagi masyarakat tetumbuhan.

Metabolisme : modifikasi senyawa kimia secara biokimia  di dalam organisme  dan sel.

Rumput laut/seaweed : anggota kelompok dari vegetasi yang dikenal sebagai ganggang (alga).

Biogeokimia : adalah adanya perubahan dari biosfer yang hidup dan tak hidup yang menyangkut materi.

Siklus biogeokimia : Adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.

sumber :

Endang Hilmi&Parengrengi. 2010. Kerusakan Ekosistem Mangrove di Indonesia.http://www.scribd.com/doc/11592887/Kerusakan-Ekosistem-Mangrove-Di-Indonesia. Diakses pada tanggal 12 april 2010

http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0117%20Bio%203-1f.htm. Diaskses pada 13 April 2010

http://dina-paper4.blogspot.com/2007/08/gejala-alam-biotik-dan-abiotik.html dikases pada 12 April 2010

Prof. Ir. Radyastuti Winarno.Ekologi Sebagai Dasar Untuk Memahami Tatanan Dalam Lingkungan Hidup.

Nama :

Accen Tarigan 230210080020

Igleysias Hutabarat 230210080040

h1

STUDI KASUS : HUTAN MANGROVE DI WILAYAH LEGON KULON SUBANG

April 12, 2010

Kabupaten Subang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Subang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Indramayu di timur, Kabupaten Sumedang di tenggara, Kabupaten Bandung di selatan, serta Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang di barat. Panjang garis pantai wilayah Kabupaten Subang 68 km serta memiliki kawasan hutan seluas 7.701,15 ha (anonim, 2004). Wilayah perairan pantai utara Subang dibatasi oleh Muara Sungai Cilamaya di bagian barat dan muara Sungai Cipunagara di bagian timur. Morfologi dan topografi pantai Subang dicirikan oleh bentuk pantai yang menjorok ke arah daratan berbentuk teluk, seperti di wilayah pantai Blanakan, serta yang menjorok ke arah laut berbentuk tanjung, seperti di wilayah pantai Legon kulon. Daerah ini merupakan kawasan pantai dengan ketinggian 0-25m dpl. Berjarak 57 km dari pusat kota Subang Hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut disebut hutan mangrove.

Hutan Mangrove

Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantaidan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir di definisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

KONDISI HUTAN MANGROVE LEGON KULON , SUBANG

Hutan Mangrove Legon kulon merupakan ekosistem unik yang terletak pada zona pasang surut di daerah tropis maupun sub tropis. Hutan Mangrove ini memiliki peranan penting ditinjau dari sisi ekologis maupun sosial ekonomi bagi masyarakat, serta merupakan tempat yang cocok untuk daerah asuhan (nursery ground) berpijahnya ikan, udang, kerang, kepiting, tempat bagi fauna daratan seperti burung, mamalia. Secara ekonomis hutan mangrove ini menjadi kayu bakar bagi masyarakat, dan merupakan daerah tangkapan ikan (fishing ground) bagi para nelayan.

Namun pesatnya pertambahan jumlah penduduk di pulau Jawa umumnya atau di wilayah Kabupaten Subang khususnya, menyebabkan makin mendesaknya tuntutan masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomis dari kawasan mangrove. Hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya upaya konversi ekosistem mangrove oleh masyarakat setempat menjadi lahan tambak, lahan pertanian, pemukiman dan lain-lain. Kegiatan konversi ekosistem mangrove menjadi lahan tambak atau lahan pertanian di wilayah Propinsi Jawa Barat telah dilakukan oleh masyarakat setempat puluhan tahun yang lalu (sejak tahun 1957). Karena itu, kawasan mangrove di wilayah kabupaten ini telah berubah fungsi menjadi kawasan pertambakan, pertanian, pemukiman, dan lainnya. Dewasa ini nuansa mangrove di wilayah tersebut hampir tidak tampak lagi. Hal ini juga diindikasikan oleh jenis mata pencaharian mayoritas penduduk desa-desa di dalam dan sekitarnya sebagai petambak, penangkap ikan, petani dan buruh tani. Sektor pertanian yang di dalamnya termasuk sektor perikanan budidaya, merupakan sektor yang paling dominan di Kabupaten Subang yang mampu mempekerjakan 51,3% dari total penduduknya (anonim, 2005 b). Selain itu, Kabupaten Subang selain memiliki potensi hasil laut berupa ikan tangkapan laut, juga memiliki potensi ikan hasil budidaya tambak, wisata pantai dan perluasan daratan akibat tanah timbul. Keberadaan sektor perikanan budidaya dalam perekonomian Subang tidak terlepas dari makin kuatnya jaringan kerja dan kelembagaan petani petambak di wilayah tersebut.

Aliran Materi pada Ekosistem Mangrove

Proses-proses kimiawi yang terjadi dalam ekosistem mangrove juga memberikan pengaruh bagi ekosistem lain di sekitarnya, seperti ekosistem lamun dan terumbu karang. Sebagian besar proses kimiawi dalam ekosistem mangrove terjadi di dalam substrat dan kolom air. Beberapa parameter yang penting dalam proses ini diantaranya adalah kekeruhan (siltasi), konduktivitas elektrik dan kapasitas pertukaran kation. Konsentrasi nutrien juga merupakan faktor yang penting. Dalam hal ini, mangrove termasuk ekosistem yang seimbang karena sangat efektif dalam menyimpan (sink) nutrien dengan menyerap nitrogen terlarut, fosfor dan silikon. Transfer unsur hara (fluxes nutrien) terjadi melalui proses fotosintesis dan proses mineralisasi oleh bakteri (Kathiresan, 2001).

Tumbuhan mangrove berperan meningkatkan kandungan nutrien dalam substrat melalui serasah berupa daun yang gugur dan materi organik/debris yang terjebak oleh akar. Substrat akan kehilangan zat hara lebih cepat jika komunitas mangrove menghilang. Kaly et al., 1997 dalam Kathiresan 2001 melaporkan, bahwa kerusakan komunitas mangrove di wilayah Queensland Utara, Australia, menyebabkan hilangnya konsentrasi nitrogen dan fosfor secara signifikan dari dalam substrat.

Komunitas mangrove seringkali mendapatkan suplai bahan polutan seperti logam berat yang berasal dari limbah industri, rumah tangga dan pertanian (pupuk yang larut dalam air). Mangrove dalam keadaan normal memiliki kandungan logam berat yang rendah. Silva et al., 1990dalam Khatiresan 2001, melaporkan bahwa sedimen di mana komunitas mangrove tumbuh di Teluk Sepetiba, Rio De Janeiro, Brazil, memiliki kandungan Mn dan Cu sebesar 99 %, bahkan kandungan Fe, Zn, Cr, Pb dan Cd hampir mencapai 100% dari total kandungan logam berat pada ekosistem mangrove tersebut. Namun, kandungan logam berat yang terdapat pada jaringan tubuh dari spesies Rhizophora mangle yang tumbuh di atasnya hanya sebesar mencapai 1 % saja. Dengan demikian, tumbuhan mangrove memiliki kemampuan untuk mencegah logam berat memasuki jaringan tubuhnya. Hal ini didukung oleh penelitian dari Sadiq dan Zaidi 1994 dalam Khatiresan 2001 yang dilakukan di Teluk Arab, Saudi Arabia. Kedua peneliti tersebut menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kandungan logam berat yang terdapat di jaringan tubuh mangrove dengan kandungan logam berat yang terdapat dalam sedimen (substrat) dimana mangrove tersebut tumbuh.

Rantai Makana di Hutan Mangrove Legon kulon , Subang.

Pada ekosistem mangrove ini, rantai makanan yang terjadi adalah rantai makanan detritus.Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Selama proses dekomposisi, serasah mangrove berangsur-angsur meningkat kadar proteinnya dan berfungsi sebagai sumber makanan bagi berbagai organisme pemakan deposit seperti moluska, kepiting dang cacing polychaeta. Konsumen primer ini menjadi makanan bagi konsumen tingkat dua, biasanya didominasi oleh ikan-ikan buas berukuran kecil selanjutnya dimakan oleh juvenil ikan predator besar yang membentuk konsumen tingkat tiga.

Sumber:

Anonim. 2009. Keterkaitan Ekosistem di Wilayah Pesisir

http://perikananunila.wordpress.com/2009/08/01/keterkaitan/

Anonim. 2010. Fauna Mangrove dan Interaksi di Ekosistem Mangrove.http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=18&Itemid=57

Accen :230210080020

igleysias: 230210080040

Ilmu Kelautan

h1

RUNDOWN ACARA

January 12, 2010

Rundown acara

07.00-07.05        pembukaan

07.05-07.10        seablink  ft nela

07.10-07.15        double b

0715-07.25         young a

07.25-07.30        SUGARAHH (1 lagu)

07.30-07.40        Quis + chit chat Sugarah

07.40-07.50        Stylistic

07.50-08.00        B. Browser

08.00-08.15        DJ perform + Jaming session

08.15-08.25        Sugarahh (2 lagu)

08.25-08.40        Nucleo

08.40-08.50        One Blood

08.50-09.00        Sadewa

09.00-09.10        Bity

09.10-09.30        Molothuvz

09.30-09.50        Sundanis

09.50-end            Sugarahh

h1

CINTA TAK RAGU (Seablink ft Nela)

January 5, 2010

Chorus:

kucinta padamu, belahan jiwaku,

hanyalah dirimu,di dalam hatiku,

tanpamu kuragu,diriku kan  mampu,

lewati hariku,oh di setiap waktu,

(verse 1: HAris)

awal petama kita bertatapan mata,

serasa ada sesuatu yang berbeda,

hati bergetar diriku lemah tak berdaya,

melihat sosokmu yang begitu mempesona

tak kupungkiri kalau jiwa ini  terusik

dengan keberadaanmu yang sungguh menarik

semua rasa kutuangkan saja dalam lirik

berharap nantinya kudapat yang terbaik

perlahan-lahan kumulai berani tuk ungkapkan

semua rasa yang bergelora dalam dada

agar semua tak berakhir hanya impian

kumiliki figur wanita yang sangat sempurna

kini cinta sudah bisa kita pacu

kuberikan semua raga hanya untukmu

saat kuberkata ku sungguh cinta padamu

saat itu kita awali kisah yang baru

Chorus:

kucinta padamu, belahan jiwaku,

hanyalah dirimu,di dalam hatiku,

tanpamu kuragu,diriku kan  mampu,

lewati hariku,oh di setiap waktu,

(verse 2 :SZ)

mungkin cinta tak selalu mulus adanya

kosa kata bisa terhenti begitu saja

pertengkaran kadang membuat kita lupa

akan tulusnya ucapan janji kita

tak ada akhir jika bri kesempatan padaku

kehilangan mu sama kehilangan nyawaku

tak dapat hidup tanpa belaian kasihmu

sungguh kucinta padamu tak ada ragu

kumohon sejuta maaf yang kuucapkan

agar hati ini serasa tak terpatahkan

karena semua hambatan akan kuelakkan

demi dirimu oh sang dewi pujaan

kuharap hidup kita dapat bersama

miliki buah cinta impian kita

ingatkan semua janji yang pernah kukata

semua akan kubuat lebih sempurna

Lirik by : SZ “Seablink”

Beat and Instrument by : Shandy

Artist : Seablink ft Nela

h1

PENGARUH ARUS LINTAS INDONESIA TERHADAP TERJADINYA FENOMENA EL NINO DAN LA NINA

January 3, 2010

Arlindo adalah suatu sistem arus yang menghubungkan samudra Pasifik dengan samudra Hindia. Jalur Arlindo dimulai dari perairan antara Mindanao dan Halmahera, mengalir masuk melalui selat Makassar sebagai jalur utamanya. Setelahnya ia meninggalkan perairan Indonesia melalui selat Lombok dan sebagian besar lainnya berbelok melalui laut Flores, laut Banda dan memasuki samudra Hindia. Webster et al (1998) menyatakan bahwa aliran bahang Arlindo adalah dapat dibandingkan terhadap aliran bersih permukaan di utara samudra Hindia dan sejumlah fraksi substansial dari aliran bahangnya. . Beberapa hasil model penelitian mengungkapkan ketergantungan suhu permukaan dan simpanan bahang permukaan samudra Pasifik dan Hindia terhadap arus lintas ini.  Di saat kondisi normal, laju Arlindo bergerak dari Samudra Pasifik ke  Samudra Hindia, dengan volume massa air rata-rata sekitar 10,5 juta meter  kubik per detik.

Massa air laut tadi bergerak dari Samudera Pasifik ke Samudra Hindia melewati selat-selat di perairan Nusantara.  Bagian Arlindo di lapisan terkincau (mixed layer) sangat dipengaruhi oleh monsun. Misalnya di kawasan selatan Selat Makassar, Arlindo berbelok ke Laut Jawa pada MT, dan berbelok ke Laut Flores dan Laut Banda pada MB. Di Laut Halmahera arus keluar ke Samudra  Pasifik pada MB dan masuk dari Samudra .Pasifik pada MT. Hanya di beberapa tempat arus mengalir ke satu arah terus menerus pada kedua musim, yaitu ke selatan di utara dan tengah Selat Makassar, ke barat-daya di sepanjang pantai selatan Pulau Timor dan ke arah Samudra .Pasifik di utara Laut Maluku.


Pada Oktober 2003, ahli-ahli oseanografi dunia berkumpul di Denpasar,  Bali, guna membahas Arlindo serta kaitannya terhadap interaksi  laut-atmosfer. Para ahli sepakat untuk lebih menggencarkan kegiatan pemantauan laut di perairan Indonesia, sebagai kelanjutan kegiatan  pemantauan Laut Pasifik di sepanjang khatulistiwa. Apalagi, bila mengacu  pada keputusan KTT-Bumi di Johannesburg, Afrika Selatan, pada September  2002, Sistem Pemantauan Laut Global (Global Ocean Observing System/GOOS)  harus dibangun dan dikembangkan.  Ini menyangkut kelangsungan Planet Bumi  beserta seluruh makhluk hidup di dalamnya. Kemampuan memantau laut secara  terus-menerus memungkinkan diprediksinya kehadiran bencana El Nino dan La  Nina secara lebih awal. Menurut Kepala Badan Atmosfer dan Kelautan Amerika  Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) Laksamana  Conrad Lautenbacher, kemampuan memprediksi kehadiran El Nino dan La Nina  bisa menyelamatkan kerugian sampai 500 juta dollar AS untuk wilayah  Pasifik saja. Angka itu bukan main-main. . Data Bappenas Tahun 1999 memperlihatkan bahwa  bencana El Nino yang terjadi di Indonesia pada 1997-1998 mengakibatkan  kerugian sebesar Rp 9,5 triliun, termasuk gagal panen, kebakaran hutan,  meningkatnya penderita penyakit pernapasan (ISPA), dan terpuruknya industri pariwisata. Bahkan, asap akibat kebakaran hutan sudah menyebar sampai ke negara tetangga sehingga mengganggu operasi transportasi darat, laut, dan udara. Belum lagi keanekaragaman hayati di darat dan di laut, utamanya terumbu karang yang juga hancur. 
Guna menekan dampak bencana iklim ekstrem sampai seminimal mungkin tadi, pemantauan laut di wilayah perairan Indonesia menjadi sangat penting. Inti dari pergerakan, sirkulasi, dan stratifikasi massa air laut di perairan Indonesia ini ternyata bersumber di wilayah Laut Banda. Laut Banda juga berperan sebagai sumber dan wahana tempat bercampurnya massa air dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta mengontrol massa air yang masuk dari Samudra Pasifik serta massa air yang keluar ke Samudra Hindia. Kesemuanya ini berdampak pada perubahan iklim global. 
Di saat kondisi normal, laju Arlindo bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, dengan volume massa air rata-rata sekitar 10,5 juta meter kubik per detik. . Massa air laut tadi bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia melewati selat-selat di perairan Nusantara kita. Alat pantau dipasang di selat-selat Indonesia guna mengetahui kecepatan arus massa air dan besaran volumenya. Hasil pantauan pelampung memperlihatkan bahwa massa Arlindo yang melewati Selat Makassar mencapai 9 juta meter kubik per detiknya (Gambar). Massa air kemudian bergerak ke Selatan, menuju Selat Lombok. . Namun, ternyata tidak semua massa air bisa langsung menerobos Selat Lombok yang sempit itu. Hanya 1,7 juta meter kubik per detik massa air dari Selat Makassar yang bisa langsung lewat.Sisanya, sebesar 7,3 juta meter kubik per detik, harus berbelok dahulu ke Timur, ke arah Laut Banda. Di sini massa air laut tadi bercampur lagi dengan massa air Samudra Pasifik yang tiba di Laut Banda lewat Laut Halmahera dan Laut Flores. Seusai berputar putar di Laut Banda, massa air tadi melanjutkan perjalanan melewati Laut Flores dan Laut Timor menuju Samudra Hindia.Total ada 4,5 juta meter kubik per detik massa air yang melewati Laut Flores, sedang 4,3 juta meter kubik per detik sisanya melewati Laut Timor.Itu tadi saat kondisi normal. Kala El Nino terjadi, pergerakan sebagian dari massa air tadi berbalik arah dari wilayah perairan Indonesia menuju Samudra Pasifik. Saat itu, terjadi penurunan volume massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia.Kosongnya massa air di wilayah perairan Indonesia tadi kemudian mendorong munculnya up welling, atau naiknya massa air dari bawah permukaan ke atas permukaan, yang juga kaya nutrien.Oleh sebab itu, saat El Nino, justru banyak khlorofil di perairan Indonesia, utamanya di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Gambar). El Nino memang bisa mengakibatkan gagal panen, kekeringan, serta kebakaran hutan. Namun, El Nino di perairan Indonesia justru meningkatkan jumlah khlorofil dan jumlah wilayah up welling. Ini bisa berarti, saat El Nino Indonesia justru panen ikan. "Sengsara Membawa Nikmat".Program pemantauan laut Indonesia semakin digencarkan agar kita mampu memprediksi kehadiran El Nino dan La Nina untuk 12 bulan sampai 24 bulan ke depan. Ini penting karena menyangkut gagal panen atau panen raya, perlu atau tidak impor beras, kekeringan atau kebanjiran, menyangkut kebakaran hutan dan sebaran asap yang bisa meningkatkan penyakit pernapasan, serta mengganggu negara tetangga. Pada 17 Desember 2003 mendatang, bersamaan dengan Peringatan Hari Nusantara 2003, dua kapal riset Indonesia, yaitu Baruna Jaya III-BPPT dan Baruna Jaya VIII-LIPI, memulai Ekspedisi INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport). Ekspedisi yang diikuti oleh ahli-ahli kelautan dari Indonesia, Australia, Perancis, Belanda, dan Amerika Serikat ini akan memantau pergerakan Arlindo di wilayah Selat Makassar, Laut Banda, Laut Flores, dan Laut Timor, sekaligus pula memasang alat-alat pantau di beberapa lokasi perairan Nusantara. Harapannya tentu bahwa kemunculan El Nino dan La Nina sudah bisa diprediksi seawal mungkin. Ekspedisi INSTANT juga akan dimanfaatkan sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia ahli-ahli oseanografi Indonesia agar suatusaat bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan ahli-ahli kaliber dunia di bidang ini.Berikut adalah ringkasan hasil temuan Gordon, Susanto dan Vranes, 2003 mengenai peranan Arlindo dan laut Indonesia dalam sistem iklim regional.. Selama musim dingin, angin bertiup dari Barat Laut menyebabkan massa air bersalinitas rendah dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa bergerak ke tenggara memasuki jalur Arlindo. Memasuki musim panas, angin berbalik arah dan mengembalikan massa air tadi ke tempatnya semula.Di selat Makassar, angin berperan lain dengan mendorong Arlindo berlawanan arah dari arusnya (ke utara; Arlindo dari selatan). Sepanjang musim panas, Arlindo terkuat adalah dari kedalaman 0-100m. Sementara karena proses di atas tadi, sepanjang musim dingin arlindo ‘terganggu’ oleh massa air yg lebih tawar (salinitas rendah). ). Massa air ini berdaya apung lebih, sehingga ‘menekan’ Arlindo yg lebih asin ke kedalaman di 100m dan melemah. Perubahan pada Arlindo ini sangat mempengaruhi cuaca; ketika massa air hangat mengalir dari Pasifik ke Hindia, menyebabkan tingginya curah hujan di sepanjang pesisir karena banyaknya penguapan. Ketika penguapan ini terbawa ke pesisir, terjadi peningkatan massa air tawar di Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Tambahan air tawar ini lalu memasuki jalur Arlindo, menyebabkan arus yang lebih dingin dan kurang bahang masuk ke Hindia. Pada akhirnya ini mengurangi curah hujan, mengurangi tingkat air tawar Arlindo dan kembali pada kondisi semula. 


Igleysias Reinhart Hutabarat
230210080040
Ilmu Kelautan Unpad


REFERENSI :

  • http://74.125.153.132/search?q=cache:nzGRJ_tJYkEJ:www.coremap.or.id/downloads/0737.pdf+pengaruh+arus+lintas+indonesia+terhadap+perubahan+iklim+global&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
  • http://www-user.uni-bremen.de/~idn/kompas0723.html
  • http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg03721.html